Mungkin Anda sekalian sudah tidak asing terhadap aplikasi yang bernama "Tik-Tok" atau Douyin (China). Aplikasi yang dirilis oleh Zhang Yiming pada September 2016 memiliki jumlah pengguna aktif (baik Android maupun Iphone) hingga Juni 2018 sebanyak 150 juta (Hallanan, 2018).
Nah, sebenarnya apa sih aplikasi "Tik-Tok" ini? "Tik-Tok"/Douyin merupakan aplikasi video singkat dengan kelebihan fitur editing yang bagus. Dengan itu, para pengguna dapat menambahkan musik dan efek-efek dalam video mereka agar terlihat kreatif (Grazani, 2018).
Bagaimana dengan fungsi dari aplikasi ini? Lewat aplikasi "Tik-Tok" para penggunanya dapat (En.prnasia.com. 2017) :
- Ponsel genggam Anda digunakan sebagai media untuk mengedit video. Dengan fitur-fiturnya, Anda dapat mengedit video dengan mudah.
- Membuat video pendek yang unik dan dapat dibagikan kepada masyarakat secara luas.
- Dengan memberdayakan pemikiran kreatif dalam pembuatan video pendek, aplikasi dapat menjadi patokan bagi para pembuat konten daring secara global.
Menurut lembaga riset pasar e-Marketer, pengguna internet di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 83,7 juta orang dan menempati peringkat ke-6 dalam pengguna internet di dunia. Lembaga tersebut memperkirakan pengguna internet di Indonesia akan mencapai angka 112 juta orang dan dapat mengalahkan Jepang di urutan ke-5 (Hidayat. 2014). Selain itu, Anda juga bisa melihat sendiri para masyarakat yang terkenal karena memaanfaatkan internet dengan mempublikasikan konten-konten kreatif, seperti Raditya Dika, Arief Muhammad, Chandra Liow, Reza Oktovian, dan masih banyak lagi. Bahkan mereka semua mendapat julukan sebagai content creator. Berangkat dari dua penjelasan tersebut, bukan sebuah kebetulan jika aplikasi tersebut memasarkannya di Indonesia.
Aplikasi ini memang sudah digunakan masyarakat sejak akhir tahun 2017, dan terkenal karena para pengguna aplikasi "Tik-Tok" membagikan video mereka lewat media sosial Instagram. Beberapa hal yang menjadi ciri khas dalam video "Tik-Tok" adalah menggoyangkan jari telunjuk dan jari tengah seperti membuat tanda petik lalu diiringi musik dangdut. Atau melakukan transisi video yang kreatif seperti penampilan pertama berantakan, kamera belakang HP ditutup dan ketika dibuka orang tersebut sudah rapih, dan masih banyak lagi gaya-gaya khas dalam aplikasi terebut.
Sekitar akhir Juni, fitur explore Instagram sempat viral karena sebuah posting-an seorang anak yang melakukan M&G di Kota Tua. Ya, mungkin Anda sudah tahu. Prabowo Mondardo (@bowo_alpelibee) adalah anak usia 13 tahun yang populer karena aplikasi "Tik-Tok". Dilansir dalam media daring Okezone.com, kepopuleran Bowo disebabkan oleh like yang ia dapatkan setelah mengunggah video. Tidak tangung-tangun, like yang ia dapatkan berkisar 6 juta (Futari, 2018). Selain jumlah like, anak yang masih duduk dibangku 2 SMP ini populer dikarenakan mengadakan M&G dengan tarif sebesar Rp80.000,- hingga Rp100.000,- dan beberapa posting-an dari penggemar Bowo yang dinilai berlebih, seperti yang Anda dapat lihat di salah satu akun Instagram (@drama.sosialmedia).
DIBLOKIR! SALAH SIAPA?
Pada 3 Juli 2018, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) meresmikan untuk memblokir aplikasi ini karena dinilai bermuatan negatif dan kontennya berbahaya bagi anak-anak (Bohang, 2018). Dilansir dalam bbc.com, Direktur Jendral Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan konten-konten negatif dalam aplikasi tersebut antara lain pornografi, pelecehan agama, dan masih banyak lagi (BBC, 2018).
Menanggapi hal tersebut, saya menggunakan fitur polling dan ask.me di media sosial Instagram saya. Dari 242 views, 52 orang menjawab YES dan 13 orang menjawab NO dengan pertanyaan apakah mereka setuju aplikasi "Tik-Tok" diblokir oleh Kominfo. Ketika pertanyaan mengenai alasan, hanya 10 alasan yang menurut saya jawabannya pas terhadap pertanyaan. Berikut 7 orang yang menjawab YES:
- "Agar tidak ada seperti "Bowo" lagi."
- "Perusahaan "Tik-Tok" buka di Indonesia, supaya pengangguran berkurang."
- "Aplikasi kurang mendidik."
- "Aplikasi ini membuat user tidak dapat membedakan mana baik dan mana tidak baik."
- "Memberikan dampak negatif."
- "Ulah user yang kelewatan batas"
- "Pemakaian yang salah oleh user".
- "User gak cuma 1, ada banyak user yang memakai aplikasi secara benar. Mungkin gausah diblokir tapi batas usia dinaikan"
- "Yang salah itu user bukan aplikasinya."
- "Pemakai aplikasi yang salah, bukan aplikasinya."
Berdasarkan paparan paling atas, sebenarnya tidak 100% salah dari aplikasi. Karena makna dan tujuan dari aplikasi ini baik untuk masyarakat Generasi Z dalam mengembangkan kreatifitas yang dibantu dengan teknologi Internet dan mendapatkan pengakuan/eksistensi oleh orang lain. Jika dikatakan media sosial ini mengandung konten pornografi dan pelecehan agama, bagaimana dengan Twitter? Dalam fitur search, Anda dapat mencari cuitan apapun, termasuk konten pornografi dan pelecehan agama. Media sosial Instagram pun tidak jauh berbeda, beberapa user asli ataupun palsu banyak juga memasukan konten pornografi dan melecehkan agama orang lain dalam postingan mereka. Berarti 2 media sosial yang populer tersebut, seharusnya diblokir juga bukan? Jika dikatakan batasan usia pengguna yang terpaut muda, "Tik-Tok" membatasi dari usia 12 tahun. Coba Anda buka aplikasi PlayStore atau AppStore, media sosial Twitter dan Instagram juga membatasi usia pengguna dari 12 tahun. Dilansir dari tekno.kompas.com, pemerintah sudah mengambil langkah menaikan batas usia dari aplikasi tersebut menjadi 16 tahun dan disambut baik oleh CEO Tik Tok, Kelly Zhang (Bohang, 2018). Lalu, apakah pemblokiran ini murni karena aplikasi memiliki "cacat" atau pengaduan masyarakat yang tidak tahan dengan konten-konten yang dibagikan oleh para user aplikasi?
Terlepas dari pihak mana yang salah, kembali peran orang tua sangat penting dalam menyikapi anak-anak remaja yang sudah mempunyai HP. Dengan internet yang sudah tersedia di HP, mereka dapat mencari hal-hal yang begitu banyak termasuk menggunakan aplikasi-aplikasi yang tersedia di HP, baik itu permainan ataupun media sosial. Dilansir dari kompasiana.com, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam menyikapi gadget terhadap anak, sebagai berikut (Raftiani, 2017):
Terlepas dari pihak mana yang salah, kembali peran orang tua sangat penting dalam menyikapi anak-anak remaja yang sudah mempunyai HP. Dengan internet yang sudah tersedia di HP, mereka dapat mencari hal-hal yang begitu banyak termasuk menggunakan aplikasi-aplikasi yang tersedia di HP, baik itu permainan ataupun media sosial. Dilansir dari kompasiana.com, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam menyikapi gadget terhadap anak, sebagai berikut (Raftiani, 2017):
- Menjelaskan hal yang tidak boleh dan boleh digunakan terhadap gadget,
- Jika mereka menggunakan gadget orang tua, buatlah kesepakatan berupa jadwal penggunaan gadget dan saksi jika melanggar kesepakatan tersebut,
- Orang tua bersama dengan anak memilih aplikasi-aplikasi yang bermanfaat khususnya dalam memperoleh informasi, dan
- Ikut terlibat dalam penggunaan aplikasi dan menyaring konten-konten yang tidak layak untuk anak-anak.
Well, itu pendapat saya mengenai isu yang lagi panas di tanah air. So, berikan pendapat kalian mengenai artikel ini lewat e-mail saya yang sudah tertera di blog. Terima kasih!
DAFTAR PUSTAKA
BBC. 2018. "Kenapa Aplikasi Tik Tok Diblokir Pemerintah?". Diakses pada 4 Juli 2018. http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-44693331
Bohang, F. K. 2018. "Sehari Diblokir, Tik Tok Datangi Kantor Kominfo Sore Ini". Diakses pada 4 Juli 2018. https://tekno.kompas.com/read/2018/07/04/17055567/sehari-diblokir-tik-tok-datangi-kantor-kominfo-sore-ini.
___________. 2018. "Menkominfo Minta Batas Umur Pengguna Tik Tok di Indonesia Jadi 16 Tahun". Diakses pada 4 Juli 2018. https://tekno.kompas.com/read/2018/07/04/18441337/menkominfo-minta-batas-umur-pengguna-tik-tok-di-indonesia-jadi-16-tahun.
En.prnasia.com. 2017. "Tik Tok, a Global Music Video Platform and Social Network, Launches in Indonesia". Diakses pada 4 Juli 2018. https://en.prnasia.com/releases/apac/Tik_Tok_a_Global_Music_Video_Platform_and_Social_Network_Launches_in_Indonesia-187963.shtml.
Futari, H. 2018. "5 Fakta Menarik Bowo Alpenliebe Idola Baru dari Aplikasi Tik Tok". Diakses pada 4 Juli 2018. https://celebrity.okezone.com/read/2018/07/04/33/1917657/5-fakta-menarik-bowo-alpenliebe-idola-baru-dari-aplikasi-tik-tok?page=1.
Grazani, T. 2018. "How Douyin became China's top short-video App in 500 days". Walkthechat.com. Diakses pada 4 Juli 2018. https://walkthechat.com/douyin-became-chinas-top-short-video-app-500-days/.
Hallanan, L. 2018. "Why China's Viral Video App Douyin is No Good for Luxury". Jingdaily.com. Diakses pada 4 Juli 2018. https://jingdaily.com/douyin-not-for-luxury-brands/.
Hidayat, W. 2014. "Pengguna Internet Indonesia Nomor Enam Dunia". Kominfo.go.id. Diakses pada 4 Juli 2018. https://kominfo.go.id/content/detail/4286/pengguna-internet-indonesia-nomor-enam-dunia/0/sorotan_media.
Raftiani, F. 2018. "Peran Orang Tua dalam Memperkenalkan Gadget pada Anak Usia Dini". Kompasiana.com. Diakses pada 5 Juli 2018. https://www.kompasiana.com/rfitrina/599ef6f21ceeef2e4d3a5322/pengiriman-orang-tua-dalam-memperkenalkan-gadget-pada-anak-usia-dini.
Raftiani, F. 2018. "Peran Orang Tua dalam Memperkenalkan Gadget pada Anak Usia Dini". Kompasiana.com. Diakses pada 5 Juli 2018. https://www.kompasiana.com/rfitrina/599ef6f21ceeef2e4d3a5322/pengiriman-orang-tua-dalam-memperkenalkan-gadget-pada-anak-usia-dini.
Trans TV. "PAGI PAGI PASTI HAPPY - Bowo, Korban Aplikasi Tak Berfaedah (4/7/18)." Youtube.Youtube, 3 Juli 2018. Web. 4 Juli 2018.

Komentar
Posting Komentar